Kamis, 17 Januari 2013

Remaja dan Masalahnya




Sebagai periode yang paling penting, masa  remaja  ini memiliki karakterisitik yang  khas  jika  dibanding  dengan  periode-periode  perkembangan  lainnya.  Adapun rinciannya adalah sebagai berikut  :
1.    Masa remaja adalah periode yang penting
Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak langsung dan dampak tidak langsung dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain itu, periode ini pun  memiliki  dampak  penting  terhadap  perkembangan  fisik  dan  psikologis individu,  dimana  terjadi  perkembangan  fisik  dan  psikologis  yang  cepat  dan penting.  Kondisi  inilah  yang  menuntut  individu  untuk  bisa  menyesuaikan  diri secara  mental  dan  melihat  pentingnya  menetapkan  suatu  sikap,  nilai-nilai  dan minta yang baru.  
2.    Masa remaja adalah masa peralihan
Periode  ini  menuntut  seorang  anak  untuk  meninggalkan  sifat-sifat  kekanak-kanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan  dan  meninggalkan  pola-pola  perilaku  sebelumnya.  Selama peralihan dalam periode  ini, seringkali seseorang merasa bingung dan  tidak  jelas mengani  peran  yang dituntut  oleh  lingkungan.  Misalnya,  pada  saat  individu menampilkan  perilaku  anak-anak maka mereka  akan  diminta  untuk  berperilaku sesuai  dengan  usianya,  namun  pada  kebalikannya  jika  individu mencoba  untuk berperilaku  seperti  orang  dewasa  sering  dikatakan  bahwa  mereka  berperilaku terlalu dewasa untuk usianya.



3.    Masa remaja adalah periode perubahan
Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat, perubahan fisik
yang cepat membawa konsekuensi  terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang juga  cepat.  Terdapat  lima  karakteristik  perubahan  yang  khas  dalam  periode  ini yaitu,  (1)  peningkatan  emosionalitas,  (2)  perubahan  cepat tentang kematangan  seksual,  (3)  perubahan  tubuh,  minat  dan  peran  yang  dituntut  oleh  lingkungan  yang  menimbulkan  masalah  baru,  (4)  karena  perubahan  minat  dan  pola  perilaku  maka  terjadi  pula  perubahan  nilai,  dan  (5)  kebanyakan  remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi.
4.    Masa remaja adalah usia bermasalah
Pada  periode  ini membawa masalah  yang  sulit  untuk  ditangani  baik  bagi  anak
laki-laki maupun perempuan. Hal  ini disebabkan oleh dua alasan yaitu : pertama,  pada  saat  anak-anak  paling  tidak  sebagian masalah  diselesaikan  oleh  orang  tua  atau  guru,  sedangkan  sekarang  individu  dituntut  untuk  bisa  menyelesaikan  masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali menolak  untuk  dibantu  oleh  orang  tua  atau  guru,  sehingga  menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
5.    Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri
Pada periode  ini, konformitas  terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan  ber-perilaku  sebisa  mungkin  sama  dengan  kelompoknya. Cara  remaja  untuk  meyakinkan  dirinya  yaitu  dengan  menggunakan  simbol  status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain.
6.    Masa remaja adalah usia yang ditakutkan
Masa  remaja  ini  seringkali  ditakuti  oleh  individu  itu  sendiri  dan  lingkungan. Gambaran-gambaran  negatif  yang  ada  dibenak  masyarakat  mengenai  perilaku  remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan  remaja. Hal  ini membuat  para  remaja  itu  sendiri  merasa  takut  untuk  menjalankan  perannya  dan  tidak mau meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya.
7.    Masa remaja adalah masa yang tidak realistis
Remaja  memiliki  kecenderungan melihat hidup secara kurang realistis, mereka  memandang  dirinya  dan  orang  lain  sebagaimana  mereka  inginkan  dan bukannya sebagai diri sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya, aspirasi  yang  tidak  realitis  ini  tidak  sekedar  untuk  dirinya  sendiri  namun  bagi  keluarga, teman.  Semakin  tidak  realistis  aspirasi  mereka  maka  akan  semakin  marah  dan  kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai.
8.    Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa secara hukum, mereka merasa cemas dengan stereotype  remaja dan menciptakan  impresi bahwa mereka  mendekati  dewasa.  Mereka  merasa  bahwa  berpakaian  dan  berperilaku seperti  orang  dewasa  sringkali  tidak  cukup,  sehingga  mereka  mulai  untuk memperhatikan  perilaku  atau  simbol  yang  berhubungan  dengan  status  orang dewasa  seperti merokok, minum, menggunakan  obat-obatan  bahkan melakukan hubungan seksual.
B.        TUGAS DAN PERKEMBANGAN MASA REMAJA
Semua  tugas-tugas  perkembangan  masa  remaja  terfokus  pada  bagaimana melalui sikap dan pola perilaku kanak-kanak dan mempersipakan sikap dan perilaku orang dewasa. Rincian tugas-tugas pada masa remaja ini adalah sebagai berikut :
  1. Mencapai  relasi  yang  lebih  matang  dengan  teman  seusia  dari  kedua  jenis kelamin.
  2. Mencapai peran sosial feminin atau maskulin.
  3. Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
  4. Meminta, menerima dan mencapai perilaku bertanggung jawab secara social.
  5. Mencapai  kemandirian  secara  emosional  dari  orang  tua  dan  orang  dewasa
lainnya.
  1. Mempersiapkan untuk karir ekonomi.
  2. Memperiapkan untuk menikah dan berkeluarga.
  3. Memperoleh suatu set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan perilaku.

C.        PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA MASA REMAJA
1.      Perubahan Fisik Masa Remaja
a.       Tinggi badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi dewasanya pada usia 17/18 tahun dan bagi anak laki-laki satu tahun lebih dari usia tersebut. 
b.      Berat badan
Perubahan  berat  tubuh  seiring  dengan  waktu  sama  dengan  perubahan  tinggi badan, hanya saja sekarang lebih menyebar ke seluruh tubuh. 
c.       Proporsi tubuh
Berbagai bagian tubuh secara bertahap mencapai proporsinya. Misal: badan lebih lebar dan lebih kuat.
d.      Organ seksual 
Pada  laki-laki  dan  perempuan  organ  seksual  mencapai  ukuran  dewasa  pada periode  remaja  akhir,  namun  fungsinya  belum matang  sampai  dengan  beberapa tahun kemudian.
e.       Karakteristik sex sekunder 
Karakteristik  sex  sekunder  utama mengalami  perkembangan  pada  level  dewasa pada periode remaja akhir.
2.      Emosionalitas Masa Remaja
Selain terjadi perubahan fisik yang sangat mencolok, juga terjadi perubahan dalam emosionalitas remaja yang cukup mengemuka, sehingga ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari perubahan pada aspek emosionalitas ini.
Masa  ini  disebut  sebagai  masa    “storm  and  stres”,  dimana  terjadi  peningkatan ketegangan emosional yang dihasilkan dari perubahan fisik dan hormonal. Pada masa ini emosi  seringkali  sangat  intens,  tidak  terkontrol  dan  nampak  irasional,  secara umum  terdapat  peningkatan  perilaku  emosional  pada  setiap  usia  yang  dilalui. Misalnya,  pada  usia  14  tahun,  remaja menjadi mudah marah, mudah  gembira,  dan meledak secara emosional, sedangkan pada usia 16 tahun terjadi kebalikannya mereka mengatakan tidak terlalu khawatir.  Hal  yang  paling  membuat  remaja  marah  adalah  apabila mereka  diperlakukan seperti  anak-anak  atau  pada  saat  merasa  diperlakukan  tidak  adil. Ekspresi kemarahannya mungkin berupa mendongkol, menolak untuk bicara, atau mengkritik secara keras. Hal yang  juga cukup mengemuka yaitu pada masa  ini  remaja  lebih  iri hati terhadap mereka yang memiliki materi lebih.
3.      Perubahan Sosial pada Masa Remaja
Salah  satu  tugas  perkembangan  yang  paling  sulit  pada  masa  remaja  adalah penyesuaian  sosial.  Penyesuaian  ini  harus  dilakukan  terhadap  jenis  kelamin  yang berlainan dalam suatu  relasi yang sebelumnya  tidak pernah ada dan  terhadap orangdewasa diluar keluarga dan lingkungan sekolah. 
Pada masa  ini  remaja paling banyak menghabiskan waktu mereka di  luar  rumah bersama dengan  teman sebaya mereka, sehingga bisa difahami apabila teman sebaya sangat  berpengaruh  terhadap  sikap,  cara  bicara,  minat,  penampilan,  dan  perilakuremaja. 
Perubahan  dalam  perilaku  sosial  terlihat  dengan  adanya  perubahan  dalam  sikap dan  perilaku  dalam  relasi  heteroseksual,  mereka  yang  tadinya  tidak  menyukaiketerlibatan  lawan  jenis menjadi menyukai pertemanan dengan  lawan  jenis.   Secaraumum  dapat  dikatakan  bahwa  minat  terhadap  lawan  jenis  meningkat.  Selain  itu, perubahan  sosial  yang  terjadi  dengan  adanya nilai-nilai baru  dalam memilih  teman, dimana  sekarang  remaja  lebih  memilih  yang  memiliki  minat  dan  nilai-nilai  yang sama, bisa memahami dan membuat merasa  aman, dapat dipercaya dan bisa diskusi mengenai hal-hal yang tidak bisa dibicarakan dengan guru atau orang tua. Pada masaini  pun  remaja memiliki  keinginan  untuk  tampil  sebagai  seorang  yang  populer  dandisukai oleh lingkungannya.

D.       MINAT-MINAT PADA MASA REMAJA
Pada masa  remaja  terdapat minat-minat  pada  bidang  kegiatan  tertentu  yang sangat  beragam.  Hal  ini  tergantung  pada  jenis  kelamin,  kecerdasan,  lingkungantempat  tinggal mereka, kesempatan yang dimiliki untuk mengembangkan minat, apayang diminati  teman sebayanya, status dalam kelompok sosial, kemampuan bawaan, minat keluarganya dan beberapa faktor lainnya. Secara umum minat-minat remaja ini dapat dikategorikan menjadi :
1.      Minat Rekreasi
Pada  masa  ini  sudah  muncul  minat  rekresi  seperti  halnya  orang  dewasa. Banyaknya  hegiatan  dan  tuntutan  baik  di  sekolah  maupun  dirumah  dirasakan penting  memiliki  sarana  rekreasi  bagi  remaja, Misalnya  :  permainan  dan  olah raga, santai, traveling, hobi, menari, membaca, film, radio, televisi dan melamun. 
2.      Minat Sosial
Perkembangan  minat  sosial  tergantung  pada  kesempatan  yang  dimiliki  remaja untuk mengembangkan minta ini dan sebagian tergantung seberapa populer dia di dalam kelompok sebayanya.
3.      Minat Pribadi
Minat  pada  dirinya  sendiri merupakan minat  terkuat  pada masa  remaja,  hal  ini disebabkan karena mereka menyedari bahwa penerimaan dari  sosial dipengaruhi  oleh  penampilan  umum  mereka,  misalnya  :  penampilan,  pakaian,  prestasi,  kemandirian, dan uang yang merupakan simbol status.
4.      Minat terhadap Pendidikan
Pada  remaja  awal  biasanya  memberikan  kritik  atas  sekolah  secara  umum  dan mengenai  larangan,  PR,  kursus  yang  dibutuhkan,  makanan  di  kantin  dan mekanisme  belajar  di  sekolah.  Mereka  kritis  terhadap  guru  dan  cara  mereka mengajar. Pada re-maja akhir sikap terhadap pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh minat pekerjaannya.
5.      Minat terhadap pekerjaan
Pada masa  ini anak  laki-laki maupun perempuan mulai untuk memikirkan secara
lebih  serius  tentang masa depan mereka. Anak  laki-laki  lebih perhatian  terhadap pe-kerjaan  di  masa  depan  dibanding  anak  perempuan.  Anak  laki-laki  lebih menginginkan pekerjaan yang mewah, menarik dan memiliki gengsi yang  tinggi, sedangkan  anak  perem-puan  lebih memilih pekerjaan  yang  lebih  aman dan  tidak menyita waktu.
6.      Minat Religious
Para  remaja  sekarang  ini  tertarik  pada  agama  dan  merasa  bahwa  hal  tersebut memiliki peran yang penting dalam kehidupan mereka.
7.      Minat dalam simbol status
Pada  masa  remaja  simbol  status  memiliki  empat  fungsi  penting  yaitu  :
mengatakan  pada  orang  lain  bahwa mereka memiliki  status  sosioekonomi  yang  lebih  tinggi  dari  yang  lain,  remaja  yang  superior  dinilai memiliki  prestasi  oleh kelompoknya, remaja diterima oleh kelompoknya karena kesamanan tampilan dan tindakan, dan remaja memiliki status yang mendekati dewasa.

E.        FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI  SIKAP REMAJA TERHADAP PENDIDIKAN
Menurut Hurlock (1980), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan, yaitu :
1.      Sikap  teman sebaya – apakah mereka berorientasi untuk melanjutkan kuliah atau berorientasi kerja.
2.      Sikap  orang  tua  –  apakah  orang  tua menialai  bahwa  sekolah merupakan  sarana peningkatan  status  sosialnya  atau  hanya  sekedar  tuntutan  untuk menyekolahkan saja.
3.      Tingkatan,  yang  menunjukkan  kesuksesan  atau  kegagalan  remaja  secara akademis.
4.      Relevansi atau nilai praktis dari bermacam-macam pelajaran.
5.      Sikap  terhadap  guru,  pegawai  administrasi,  kebijakan-kebijakan  akademik  dan disiplin.
6.      Sukses dalam kegiatan ekstrakurikuler
7.      Derajat penerimaan sosial oleh teman sekelasnya.

F.         TIPE-TIPE REMAJA YANG SEDIKIT MEMILIKI MINAT
1.      Remaja yang orang tuanya memiliki aspirasi yang tidak realistis terhadap prestasi akademis, olah  raga  dan  sosial  sehingga  memaksa anak-anaknya untuk meraih target yang ditentukan mereka.
2.      Remaja  yang  kurang  diterima  oleh  teman  sekelas  dan  mereka  yang  merasakehilangan kesenangan seperti teman-temannya dalam kegiatan ekstrakulikuler.
3.      Remaja yang matang lebih awal dan merasa lebih mencolok dibandingkan teman sekelasnya, sehingga seringkali  diharapkan  untuk bisa melakukan tugas-tugasakademis melebihi dari kemampuannya.



G.       TANDA-TANDA MALADJUSTMENT REMAJA
Dengan adanya perubahan yang terjadi dalam fisik, psikologis dan sosial pada remaja  yang  sangat  cepat  dan  drastis  menuntut  remaja  tersebut  untuk  bisa menye-suaikan diri dengan perubahan  tersebut dan  tuntutan-tuntutan  lingkungan baru yang  menyertainya.  Pada  kenyataannya  tidak  semua  remaja  dapat  menyesuaikan dengan  perubahan  tersebut,  berikut  adalah  beberapa  tanda-tanda  penyesuaian  diri yang salah pada remaja :
1.      Tidak bertanggung jawab, misalnya mengabaikan sekolah.
2.      Agresif secara berlebihan dan sikap yang tertalu yakin atas dirinya.
3.      Perasaan  tidak  aman,  yang  menyebabkan  remaja  harus  menyesuaikan  dengan standar kelompok.
4.      Homesickness
5.      Menghayal secara berlebihan sebagai upaya untuk mengkompensir ketidakpuasan dari kehidupan sehari-hari.
6.      Regresi  perilaku  ke  tingkat  perkembangan  yang  lebih  awal, misalnya  ngompol, ngamuk pada saat marah dan lain-lain.
7.      Menggunakan defense  mechanism  secara  berlebihan,  seperti  rasionalisasi,proyeksi, fantasi, dan displacement.

H.       CARA-CARA ORANG TUA UNTUK MENANGANI MASALAH REMAJA
Adanya  tanda-tanda  kesalahan  penyesuaian  diri  remaja  tentu  saja menuntut Penanganan yang cepat dan tepat, mengingat masa ini merupakan masa penting yang menentukan  individu  pada masa  berikutnya.  Penanganan  atas  permasalahan  remaja sangat  bervariasi  dan  tergantung  dari  konteks  dan  latar  belakang  permasalahannya, dan  juga  upaya-upaya  ini  idealnya merupakan  hasil  kerjasama  orang  tua,  guru  dan pihak-pihak lain yang terkait.
Secara  umum  ada  beberapa  hal  yang  bisa  dilakukan  oleh  orang  tua  untuk mencegah dan menangani munculnya permasalahan ini, antara lain :
1.      Memahami  dan  mendengarkan  keluhan  remaja  dengan  penuh  perhatian, pengertian  dan kasih sayang.
2.      Memberikan penghargaan terhadap prestasi studi/prestasi sosial, seperti olahraga, kesenian atau perbuatan-perbuatan baik yang ditunjukkan  remaja baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat
3.      Banyak berdiskusi tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan sosial maupun lingkungan  sekolahnya  serta  orientasi  masa  depan  yang  akan  direncanakan remaja.
4.      Realistis  dan  bersikap  objektif  terhadap  anak,  sehingga  idealnya  orang  tua mengetahui kapasitas anak dan mendiskusikan target apa yang ingin dicapai. 
5.      Mulai  menyertakan  remaja  dalam  pengambilan  keputusan  keluarga.  Hal  ini mendidik  anak  untuk  ikut  bertanggung  jawab  dan melatih mereka  dalam  proses problem solving dan decision making. 
6.      Mendukung ide-ide remaja yang positif. 
7.      Mengawasi  kegiatan  dan  lingkungan  sosial  remaja  secara  proporsional,  tidak terlalu ketat atapun terlalu longgar.
8.      Jika  ada  indikasi  ketidakberesan  yang  serius,  baik  dalam  segi  fisik  ataupun psikologis yang cukup mencolok segera konsultasikan dengan  tenaga ahli seperti dokter atau psikolog.

I.          KIAT-KIAT SUKSES DALAM PENDIDIKAN UNTUK REMAJA
1.      Mentukan tujuan dan target yang akan dicapai, sehingga pengerahan sumber daya yang dimiliki akan lebih tepat. 
2.      Kenali  diri,  baik  berupa  kelebihan  dan  kekurangan  karena  semakin  remaja mengenai dirinya akan semakin terarah tindakannya. 
3.      Tekun dan jangan cepat menyerah. 
4.      Berpikir sebelum mengambil suatu keputusan.
5.      Openminded dan jangan sombong.
6.      Jangan malu bertanya dan jangan takut salah.
7.      Hati-hati memilih teman dan lingkungan pergaulan.
8.      Hormat kepada guru, orang tua dan teman. 
9.      Mengembangkan empati dalam bergaul.
10.  Berusaha dan berdo’a
11.  Bicaralah  pada  orang  tua  jika  ada  permasalahan  yang  sulit,  karena  tidak  semua masalah bisa ditangani sendiri.
12.  Apabila  perlu,  dapat  berkonsultasi  dengan  ahli  (misal  :  psikolog,  konselor pendidikan, dll)




J.          KESIMPULAN
Masa remaja sebagai periode perkembangan yang paling penting bagi individu  pada kenyataannya merupakan suatu periode yang sarat dengan perubahan dan rentan munculnya  masalah.  Meskipun  demikian  adanya  pemahaman  yang  baik  serta penanganan yang  tepat  terhadap  remaja merupakan  faktor penting bagi keberhasilan remaja  di  kehidupan  selanjutnya, mengingat masa  ini merupakan masa  yang  paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan  pihak-pihak  lain  yang  terkait  agar  perkembangan  remaja  di  bidang  pendidikan dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia.
DAFTAR RUJUKAN

Hurlock, Elizabeth B, 1980. Psikologi Perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, Erlangga, Jakarta.

Tim Dirjen Pembinaan Kesmas. (1997). Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Hurlock, Elizabeth B. 1999. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga









PENYESUAIAN DIRI REMAJA

  A. Konsep dan Proses Penyesuaian Diri
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri. Kondisi fisik, mental dan emosional dipengarungi oleh faktor- faktor lingkungan dimana  kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian diri yang baik atau yang salah, sejak lahir sampai meninggal seorang individu merupakan organisme yang aktif. Ia aktif dengan tujuan dan aktivitas yang berkesinambungan. Ia berusaha memuaskan kebutuhan jasmaninya. Penyesuaian diri adalah suatu proses dan salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuain diri secara harmonis, baik kepada diri sendiri mapun terhadap lingkungannya.
1.   Pengertian penyesuaian diri
Penyesuaian berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksistensinya (survive) dan memperoleh kesejahteraan rohaniah, serta dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian diri juga dapat diartikan bagai konvormitas, yang menyesuaikan  sesuatu dengan standart atau prinsip. Definisi lain mengenai penyesuaian diri yaitu, kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon- respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustasi- frustasi secara efisien individu memiliki kemampuan untuk menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai suatu penguasaan dan kematangan emosional.  Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya.
Proses Penyesuaian Diri, penyesuaian diri adalah proses bagaimana seorang individu dapat mendapat keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungannya. Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat manusia, terus- menerus berupaya menemukan dan mengatasi dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja mumcul konflik, takanan, frustasi, yang menyebabkan individu terdorong untuk meneliti berbagai kemungkina perilaku untuk membebaskan dirinya dari kegagalan. Contoh : Serang anak yang membutuhkan rasa kasih sayang dari ibuknya yang terlalu sibuk dengan tugasnya. Anak akan prustasi dan berusa sendiri menemukan pemecahan untuk mereduksi ketegangan  atau kebutuhan yang belum terpenuhi.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi mengambil variasi bentuk, dimana setiap bentuk dpat diarahkan kepada rintangan atau faktor frustasi yang disebabkan oleh beberapa realita misalnya: pembatasan orang tua, hambatan fisik, aturan sosial, dan semacamnya.
Seseorang dikatakan berhasil dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannnya dengan cara-cara yang wajar yang dapat diterima lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.
Karakteristik penyesuaian diri tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena ada banyak rintangan dalam proses penyesuaian diri. Berikut ini akan ditinjau karakteristik penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian diri yang salah.
a.    Penyesuaian diri secara positif
Mereka yang tergolong mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai dengan hal- hal berikut:
1.   Tidak menunjukkan adanya ketengan emosional
2.   Tidak menunjukkan adanya mekanisme psikologis
3.   Tidak menunjukkan frustasi pribadi
4.   Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
5.    Mampu dalam belajar
6.   Menghargai pengalaman
7.   Bersikap realistik dan objektif
Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk antara lain: penyesuaian diri dengan menghadapi masalah secara langsung, penyesuaian diri dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan), penyesuaian diri dengan trial dan eror atau coba- coba, penyesuaian diri dengan subsitusi (mencari pengganti), penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri, penyesuaian diri dengan belajar, penyesuaian diri dengan pengendalian diri, penyesuaian diri dengan pengamatan yang cermat.
b.   Penyesuaian diri yang salah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian diri yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional , tidak ralistis, agresif dan lain- lain. Ada tiga bentuk reaksi yang salah dalam penyesuaian diri yang salah yaitu: reaksi bertahan, reaksi menyerang dan reaksi melarikan diri.
1.   Reaksi bertahan
Individu berusaha mempertahankan diri, seolah- seolah tidak menghadapi kegagalan. Ia selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk khusus dari reaksi ini adalah:

  1. Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari- cari alasan untuk membenarkan tindakan
  2. Represi, yaitu berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak kea lam tidak sadar. Ia berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis
  3. Proyeksi, yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya.
  4. “Sourgrapes”(anggur kecut),yaitu dengan memutar balikkan keadaan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik mengatakan bahwa  mesin tiknya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengeti
2.   Reaksi menyerang
Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku menyerang untuk menutupi kegagalanya. Ia tidak mau menyadari kegagalanya. Reaksi- reaksinya Nampak dalam tingkah laku: selalu membenarkan diri nya sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, senang mengganggu orang lain, marah secara sadis, suka membalas dendam dan sebagainya.

3.   Reaksi melarikan diri
Dalam reaksi ini seseorang akan melakukan hal- hal seperti berikut: berfantasi yaitu memuaskan keigininan yang tidak tercapai dalam bentuk angan- angan,  banyak tidur, minum- minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu narkotika, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan tingkat perkembangan yang lebih awal (misalnya orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil, dan lain- lain)
4.   Faktor – faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri
Proses penyesuaian diri identik dengan faktor- faktor yang mengatur perkembangan dan terbentknya pribadi secara bertahap. Penentu- penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut: kondisi- kondisi fisik (keturunan), susunan saraf, kesehatan, dan sebagainya, perkembangan dan kematangan ( kematangan intelektual sosial dan emosional), penentu psikologis (termasuk didalamnya pengalaman, penentuan diri, frustasi dan konflik), kondisi lingkungan (keluarga dan sekolah), penentu cultural (budaya dan agama).
Kondisi Jasmaniah
Struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku manusia sehingga dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukkan  bahwa ganggauan dalalm saraf, dan otot dapat menimbulkan gangguan mental tingkah laku dan kepribadian. Dengan demikin, kondisi sistem yang baik merupakan syarat bagi terjadinya proses penyesuaian diri yang baik. Kualitas penyesuaian diri yang baik hanya diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula.
Perkembangan, Kematangan dan Penyesuaian Diri
Dalam proses perkembangan, respon anak berkembang dari proses instingtif menjadi respon yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman.  Dengan bertambahnya usia perubahan dan perkembangan respon, tidak hanya melalui proses belajar saja melainkan anak juga menjadi matang untuk melakukan respon dan menentukan pola penyesuaian dirinya.
Sesuai dengan hukum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai berbeda antar individu  yang satu dengan yang lainya, sehingga penyampaian pola penyesuaian diri juga berbeda secara individual yang dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti: emosional, sosial, moral, keagamaan, intelek.
Penentu Psikologis Terhadap Penyesuaian Diri
Beberapa faktor psikologis  yang mempengaruhi penyesuaian diri diantaranya adalah:
a.    Pengalaman
Tidak semua pengalaman berpengaruh terhadap pola penyesuaian diri. Pengalaman yang memiliki dalam penyesuaian diri adalah pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman yang traumatik ( menyusahkan). Pengalaman yang menyenangkan cenderung bisa menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, sedangkan pengalaman traumatik menimbulkan penyesuaian diri yang kurang baik. Selain kedua pengalaman tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap proses penyesuaian diri.
b.   Proses belajar merupakan suatu yang menjadi dasar dalam penyesuaian diri, karena melalui belajar maka pola- pola respons akan berkembang dan membentuk kepribadian dalam proses penyesuaian diri, belajar merupakan salah satu proses modifikasi tingkah laku sejak fase- fase awal dan berlangsung terus- menerus sepanjang hayat dan diperkuat dengan kematangan.
c.    Determinasi Diri adalah peran seseorang untuk menentukan dirinya dalam proses penyesuaian diri, terdapat faktor kekuatan yang mendorong untuk mencapai sesuatu yang baik atau buruk, untuk mencapai taraf penyesuaian diri yang tinggi atau merusak diri. Faktor- faktor itulah yang dinamakan faktor determinasi diri. Determinasi diri memiliki peranan yang penting dalam proses pengendalian arah dan pola penyesuaian diri
d.   Konflik dan penyesuaian ada beberapa pandangan bahwa semua konflik mengganggu atau merugikan. Namun dalam kenyataan ada juga seseorang yang memiliki banyak konfilik tetapi tidak merusak atau merugikan. Sebenarnya, beberapa konflik dapat bermanfaat memotivasi seseorang untuk meningkatkan kegiatan. Sehingga substansi dari proses penyesuaian ini terletak pada bagaimana seseorang untuk mengelola konflik yang dialaminya sehingga mengarah pada pencapaian tujuan yang menguntungkan baik secara individu atau sosial.
Lingkungan Sebagai Penentu Penyesuaian Diri
Berbagai lingkungan anak seperti keluarga dan pola hubungan di dalamnya, sekolah, masyarakat, kultur, dan agama berpengaruh dalam penyesuaian diri. Pola hubungan antar orang tua dengan anak akan mempunyai pengaruh terhadap proses penyesuaian diri, seperti hubungan dimana orang tua menerima anaknya secara hangat sehingga anak merasa nyaman, atau dalam bentuk proses pendisiplinan yang berpengaruh terhadap pola pengaturan waktu bagi anak.
Kultur dan Agama Sebagai Penentu Penyesuaian Diri
Lingkungan kultural dimana individu berada dan berinteraksi akan menentukan pola penyasuaian dirinya. Dimana seorang individu akan berusaha menempatkan dirinya dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya. Agama memberikan suasana psikologis tertentu dalam mengurangi konflik, frustasi dan ketegangan lainya.  Agama juga memberikan suasana damai dan tenang bagi anak. Agama merupakan sumber nilai kepercayaan dan pola- pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi arti ,  tujuan, dan kestabilan hidup manusia
B. Permasalahan- Permasalahan Penyesuaian Diri Remaja
Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orang tua, dan suasana psikologis, sosial dalam keluarga contoh: sikap orang tua yang menolak. Penolakan orang tua terhadap anaknya dibagi menjadi dua macam: pertama, penolokan mungkin merupakan dimana orang tua merasa tidak sayang kepada anakya karena berbagai bab. Seperti tidak menghendaki kelahiranya. Jenis kedua, penolakan juga ada dalam bentuk berpura- pura tidak tahu keinginan anak. Contoh: orang tua memberikan tugas kepada anaknya saata berbarengan dengan rencana anaknya untuk menonton bersama dengan teman- temanya.
Akumulasi dari kedua macam penolakan tersebut ialah remaja tidak dapat menyesuaaikan diri, cenderung untuk mengahbiskan waktu di luar umah. Terutama pada gadis, mungkin akan terjadi perkawinan di luar rumah. Karena menganggap keluarga dirumahnya tidak lebih baik. Bisa juga remaja akan berusaha menarik perhatianorang lain karena terlalu terkekang di dalam keluarganya
Penyesuaian diri remaja dengan kehidupan di sekolah.  Biasanya timbul ketika reamja mulai/ memasuki jenjang yang baru, baik sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas. Mereka akan mengalami penyesuain diri, teman, man mata pelajaran. Sebagai akibatnya antara lain prestasi belajarnya menurun dibangkan denga presestasi di sekolah sebelumnya . Tidak jarang terjadi anak tidak mau sekolah, tidak mau belajar, suka membolos  dan sebagainya karena ia dipaksa oleh orang tuanya utnuk masuk sekolah yang diinginkanya.
C. Implikasi Proses Penyesuaian Remaja Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Dalam kaitanya denga pendidikan , peranan sekolah pada hakekatanya sama dengan peranan keluarga, yaitu sebagai rujukan dan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah. Oleh karena itulah di setiap sekolah lanjutan ditunjuk wali kelas yaitu guru –guru yang akan membantu anak-anak didik jika mereka menghadapi kesulitan dalam masalah pelajaranya, disamping itu  ada guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu anak didik dalam masalah didik, atau penyesuaian diri, baik terhadap dirinyas sendiri mapun tuntutan sekolah.
Upaya- upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian diri remaja khsusunya di lingkungan sekolah:
1.   Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak
2.   Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah seperti dirumah baik secara sosial , fisik maupun akademis
3.   Usaha memahami anak didik secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.   Menggunakan metode dan alat belajar yang menimbulkan gairah belajar.
5.   Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
6.   Ruangan kelas yang memenuhi syarat- syarat kesehatan.
7.   Pengaturan atau tata tertib yang jelas dan dipahami murid- murid.
8.   Teladan dari para guru dalam segala segi pendidikan.
9.   Kerjasama dan saling pengertian dari guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
10.         Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik- baiknya.
11.         Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
12.         Hubungan yang baik dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat.
Karena disekolah guru merupakan figur yang sangat penting terhadap penyesuaian siswa-siswanya, maka dituntut sifat guru yang efektif yaitu (Ryans dalam Garrison, 1956):
1.   Memberi kesempatan, tampak antusias dalam aktivitas siswa dalam kelas.
2.   Ramah dan optimis
3.   Mampu mengontrol diri tidak mudah terganggu dan tindakannya teratur
4.   Senang kelakar, mempunyai rasa humor
5.   Mengetahui dan mengakui kesalanhannya sendiri
6.   Jujur dan obyektif dalam memperlakukan siswa
7.   Menunjukkan perhatian dan rasa simpati dalam bekerja dengan siswa- siswanya.
Evaluasi
1.   Kemukakan dengan bahasa Anda sendiri pengertian penyesuaian diri!
2.   Jelaskan apa yang dimaksud dengan penyesuaian diri terhadap suatu proses!
3.   Sebutkan contoh empat karakteristik penyesuaian diri secara positif!
4.   Sebutkan contoh tiga karakteristik penyesuaian diri yang salah!
5.   Jelaskan bahwa perkembangan dan kematangan merupakan faktor  yang mempengaruhi proses penyesuaian diri.
D. Kunci Jawaban
1.   Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses adaptasi untuk mencapai keharmonisan antar faktor internal dan eksternal dengan diri maupun lingkungan
2.   Penyesuaian diri adalah suatu proses berkesinambungan dan berkelanjutan dalam suatu aktivitas kehidupan individu mulai sejak lahir sampai ia meninggal untuk mencapai keselarasan dan keharmonisan terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan dalam kondisi yang positif.
3.   Contoh penyesuian diri secara positif antara laing: tidak ada ketegangan dalam emosional, tidak terjadi frustasi, menggunakan pertimbangan rasional, realistis dan objektif dalam bertindak.
4.   Beberapa contoh karakteristik yang salah antara lain: reaksi bertahan, yaitu selalu membenarkan diri, menyerang yaitu selalu menyalahkan orang lain sebagai suatu cara untuk mendengarkan kesalahanya, dan melarikan diri yaitu suatu sikap yang ingin atau melupakan masalahnya dengan berbagai cara misalnya menjadi pecandu narkoba atau bunuh diri.
5.   Dengan bertambahnya usia perubahan dan perkembangan respon dalam proses penyesuaian diri juga mengalami perubahan misalnya dari respon yang dahulu bersifat instingtif menjadi respon yang diperoleh dari proses belajar dan pengalaman, dimana anak akan menjadi matang untuk menentukan pola- pola penyesuaian diri seiring dengan perkembangan dan kematangan pada dirinya.

gambar
gambar
HARI KURNIAWAN AREMA